1.
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Ageratum conyzoides
(babadotan) adalah sejenis tanaman perdu yang tumbuh di daerah basah dan
berawa. Tanaman ini termasuk ke dalam famili Asteraceae. Babadotan merupakan
tumbuhan liar dan sering dianggap sebagai gulma bagi tumbuhan budidaya (Shinta dan Widiastuti, 2008).
Secara umum tanaman ini memiliki rasa yang
pahit dan mengeluarkan aroma yang kurang sedap sehingga kurang diminati oleh
ternak sebagai pakan hijauan. Walaupun demikian, beberapa penelitian menunjukan
bahwa tanaman ini bisa dijadikan biopestisida. Penelitian sebelumnya yang menggunaan tanaman
ini sebagai toksisitas adalah pada hewan uji tikus witsar. Sekelompok tikus
witsar diberi diet yang mengandung tanaman babadotan sebesar 10-30% setiap hari
secara laboratorik menunjukan perubahan pada jaringan hati secara konsisten (Sani,
1997). Analisis kandungan senyawa toksik yang menimbulkan kerusakan pada
jaringan hati belum pernah dilaporkan.
Roder (1991;Sani 1997) senyawa
toksik daun babadotan secara kimiawi mengandung senyawa pirolizidin alkaloida dengan struktur kimia berupa Lycopsamin dan Echinatin. Kedua senyawa tersebut bersifat toksik terhadap serangga Lepidoptera. Senyawa aktif penyebab
kerusakan hati belum diketahui (Sani, 1997). Penelitian lain yang menunjukan
bahwa ekstrak daun babadotan mempunyai toksik terhadap lalat rumah. Dari
beberapa kajian yang pernah dilakukan pada ekstrak babadotan diketahi bahwa
senyawa yang paling dominan untuk memberikan efek insektisida adalah Precocene. Senyawa tersebut memiliki
aktifitas antijuvenile hormon, sehingga dapat menghambat pertumbuhan serangga
dari stadium satu ke stadium selanjutnya(Shinta dan Widiastuti, 2008).
Keuntungan dari penggunaan ekstrak
daun babadotan (Ageratum
conyzoides) sebagai biopestisida adalah bahwa biopestisida ini
dengan mudah dapat terurai di alam (biodegradable) dan tidak meracuni
lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan ternak (Pasaribu, 2009).
Pasaribu
(2009) mengemukakan bahwa hasil analisis
kimia menggunakan alat HPLC (High
Preessure Liquid Chromatography) diketahui bahwa tumbuhan babadotan
mengandung senyawa kimia dari golongan precocene
1, prepocene 2, senyawa saponin, flavonoid polifenol, dan
minyak atsiri. Senyawa kimia inilah yang akan menjadi toksik terhadap serangga. Selama ini penelitian tentang ekstrak
babadotan telah diujikan pada lalat rumah (Shinta dan Widiastuti, 2008).
Walaupun demikian, penelitian yang
umum dilakukan pada biopestisida adalah pengujian terhadap organisme penggangu
tanaman (hama). Dengan asumsi bahan kimia yang biodegradable akan aman untuk
lingkungan. Akan tetapi, senyawa aktif dari biopestisida babadotan adalah
senyawa kimia, maka terdapat kemungkinan senyawa tersebut menggangu
kesetimbangan habitat dan hewan-hewan non target sehingga perlu dilakukan
pengujian biopestisida ini terhadap non hama atau non target.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar