Selasa, 16 Juli 2013

contoh proposal penelitian


1.      Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Ageratum conyzoides (babadotan) adalah sejenis tanaman perdu yang tumbuh di daerah basah dan berawa. Tanaman ini termasuk ke dalam famili Asteraceae. Babadotan merupakan tumbuhan liar dan sering dianggap sebagai gulma bagi tumbuhan budidaya (Shinta dan Widiastuti, 2008).
 Secara umum tanaman ini memiliki rasa yang pahit dan mengeluarkan aroma yang kurang sedap sehingga kurang diminati oleh ternak sebagai pakan hijauan. Walaupun demikian, beberapa penelitian menunjukan bahwa tanaman ini bisa dijadikan biopestisida.  Penelitian sebelumnya yang menggunaan tanaman ini sebagai toksisitas adalah pada hewan uji tikus witsar. Sekelompok tikus witsar diberi diet yang mengandung tanaman babadotan sebesar 10-30% setiap hari secara laboratorik menunjukan perubahan pada jaringan hati secara konsisten (Sani, 1997). Analisis kandungan senyawa toksik yang menimbulkan kerusakan pada jaringan hati belum pernah dilaporkan.
Roder (1991;Sani 1997) senyawa toksik daun babadotan secara kimiawi mengandung senyawa pirolizidin alkaloida dengan struktur kimia berupa Lycopsamin dan Echinatin. Kedua senyawa tersebut bersifat toksik terhadap serangga Lepidoptera. Senyawa aktif penyebab kerusakan hati belum diketahui (Sani, 1997). Penelitian lain yang menunjukan bahwa ekstrak daun babadotan mempunyai toksik terhadap lalat rumah. Dari beberapa kajian yang pernah dilakukan pada ekstrak babadotan diketahi bahwa senyawa yang paling dominan untuk memberikan efek insektisida adalah Precocene. Senyawa tersebut memiliki aktifitas antijuvenile hormon, sehingga dapat menghambat pertumbuhan serangga dari stadium satu ke stadium selanjutnya(Shinta dan Widiastuti, 2008).
Keuntungan dari penggunaan ekstrak daun babadotan (Ageratum conyzoides) sebagai biopestisida adalah bahwa biopestisida ini dengan mudah dapat terurai di alam (biodegradable) dan tidak meracuni lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan ternak (Pasaribu, 2009).
Pasaribu (2009) mengemukakan bahwa hasil analisis kimia menggunakan alat HPLC (High Preessure Liquid Chromatography) diketahui bahwa tumbuhan babadotan mengandung senyawa kimia dari golongan precocene 1, prepocene 2,  senyawa saponin, flavonoid polifenol, dan minyak atsiri. Senyawa kimia inilah yang akan menjadi toksik terhadap serangga. Selama ini penelitian tentang ekstrak babadotan telah diujikan pada lalat rumah (Shinta dan Widiastuti, 2008).
Walaupun demikian, penelitian yang umum dilakukan pada biopestisida adalah pengujian terhadap organisme penggangu tanaman (hama). Dengan asumsi bahan kimia yang biodegradable akan aman untuk lingkungan. Akan tetapi, senyawa aktif dari biopestisida babadotan adalah senyawa kimia, maka terdapat kemungkinan senyawa tersebut menggangu kesetimbangan habitat dan hewan-hewan non target sehingga perlu dilakukan pengujian biopestisida ini terhadap non hama atau non target.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar